Fisiologi Persalinan

FISIOLOGI PERSALINAN NORMAL

Bahan Kuliah Biologi Reproduksi
Oleh Nur Lathifah, S.S.T

1. Fisiologi Persalinan
a. Pengertian
Sebelum membahas tentang fisiologi persalinan ada beberapa istilah yang perlu diketahui, yaitu ;
– Gravida : wanita yang sedang hamil
– Para : wanita pernah melahirkan bayi yang dapat hidup (viable)
– In partu/Parturient : wanita yang sedang berada dalam proses persalinan

Partus atau Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup di dunia luar melalui vagina atau jalan lahir ke dunia luar.

Kriteria Partus Normal :
Bayi lahir melalui vagina dengan letak belakang kepala / ubun-ubun kecil, tanpa memakai alat / pertolongan istimewa, serta tidak melukai ibu maupun bayi (kecuali episiotomi), berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam.

Partus Abnormal :
Bayi lahir melalui vagina dengan bantuan tindakan atau alat seperti ekstraksi, cunam, vakum, dekapitasi, embriotomi dan sebagainya, atau lahir per abdominam dengan sectio cesarea.

b. Tanda-tanda InPartu
– Keluarnya lendir darah dari vagina (tapi bisa tidak terjadi
– Terjadinya kontraksi yang diinterpretasikan ibu sebagai rasa nyeri yang menjalar dari pinggang ke perut
– Terjadinya pendataran dan pembukaan serviks

c. Sebab – Sebab terjadinya Persalinan
– Menurunnya kadar progesteron, hal ini berkaitan dengan menurunnya fungsi plasenta, penurunan progesteron ini berkurangnya relaksasi otot rahim.
– Meningkatnya produksi estrogen hal ini berkiatan dengan peningkatan produksi DHEAS (Dehidro Epiandrosteron Sulfat) dan OHDHEAS (Hidrooksida Dehidro Epiandrosteron Sulfat) oleh janin yang merupakan bahan untuk membentuk hormon estrogen. Peningkatan estrogen ini menyebabkan meningkatnya kerentanan dari miometrium.

– Peningkatan kadar hormon oksitoxin dan Peningkatan hormon prostaglandin, hal ini terkait dengan adanya stress maternal dan fetal.
– Perangangan dari uterus yang menyebabkan adanya iskemia miometrium sehingga makin merangsang adanya kontraksi uterus
– Tekanan pada ganglion servikale dari pleksus Frankenhauser, menjadi stimulasi (pacemaker) bagi kontraksi otot polos uterus.
– Pengaruh Janin. Teori ini mengatakan bahwa jika janin mengalami kekurangan nutrisi maka janin akan mendesak untuk keluar. Selain itu berhubungan dengan kematangan fungsi sistem endokrin janin (hypothalamic-pituitary-adrenal axis) yang berkaitan dengan pembentukan 16 – OHDHEAS yang akan menjadi bahan pembentukan estrogen)

d. PERSALINAN DITENTUKAN OLEH 3 FAKTOR “P” UTAMA
– Power
His (kontraksi ritmis otot polos uterus) dan kekuatan mengejan ibu,
– Passage (Keadaan jalan lahir)

– Passanger
Keadaan janin (letak, presentasi, ukuran/berat janin, ada/tidak kelainan anatomik mayor)
– Ditambah dengan faktor-faktor “P” lainnya : psychology, physician, position.
Dengan adanya keseimbangan / kesesuaian antara faktor-faktor “P” tersebut, persalinan normal diharapkan dapat berlangsung.

e. HIS
His adalah gelombang kontraksi ritmis otot polos dinding uterus yang dimulai dari daerah fundus uteri di mana tuba falopii memasuki dinding uterus, awal gelombang tersebut didapat dari ‘pacemaker’ yang terdapat di dinding uterus daerah tersebut.

Terjadinya his, akibat :
1. Kerja hormon oksitosin
2. Regangan dinding uterus oleh isi konsepsi
3. Rangsangan terhadap pleksus saraf Frankenhauser yang tertekan massa konsepsi.

His yang baik dan ideal meliputi :
1. Kontraksi simultan simetris di seluruh uterus
2. Kekuatan terbesar (dominasi) di daerah fundus
3. Terdapat periode relaksasi di antara dua periode kontraksi.
4. Terdapat retraksi otot-otot korpus uteri setiap sesudah his
5. Serviks uteri yang banyak mengandung kolagen dan kurang mengandung serabut otot,akan tertarik ke atas oleh retraksi otot-otot korpus, kemudian terbuka secara pasif dan mendatar (cervical effacement). Ostium uteri eksternum dan internum pun akan terbuka.

Nyeri persalinan pada waktu his dipengaruhi berbagai faktor :
1. Iskemia dinding korpus uteri yang menjadi stimulasi serabut saraf di pleksus hipogastrikus diteruskan ke sistem saraf pusat menjadi sensasi nyeri.
2. Peregangan vagina, jaringan lunak dalam rongga panggul dan peritoneum, menjadi rangsang nyeri.
3. Keadaan mental pasien (pasien bersalin sering ketakutan, cemas/ anxietas, atau eksitasi).
4. Prostaglandin meningkat sebagai respons terhadap stress

Pengukuran kontraksi uterus
1. Amplitudo : intensitas kontraksi otot polos : bagian pertama peningkatan agak cepat, bagian kedua penurunan agak lambat.
2. Frekuensi : jumlah his dalam waktu tertentu (biasanya per 10 menit).
3. Satuan his : unit Montevide (intensitas tekanan / mmHg terhadap frekuensi).

f. PEMBAGIAN FASE / KALA PERSALINAN
Kala 1
Pematangan dan pembukaan serviks sampai lengkap (kala pembukaan)
Kala 2
Pengeluaran bayi (kala pengeluaran)
Kala 3
Pengeluaran plasenta (kala uri)
Kala 4
Masa 2 jam setelah partus, terutama untuk observasi

PERSALINAN KALA I : FASE PEMBUKAAN SERVIKS
Kala I DIMULAI pada waktu serviks membuka karena kontraksi uterus yang teratur, makin lama, makin kuat, makin sering, makin terasa nyeri, disertai pengeluaran darah-lendir yang tidak lebih banyak daripada darah haid. BERAKHIR pada waktu pembukaan serviks telah lengkap (pada periksa dalam, bibir porsio serviks tidak dapat diraba lagi). Selaput ketuban biasanya pecah spontan pada saat akhir kala I.

Kala I terbagi dalam beberapa fase yaitu :
– Fase laten : pembukaan sampai mencapai 3 cm, berlangsung sekitar 8 jam.
– Fase aktif : pembukaan dari 4 cm sampai lengkap (10 cm), berlangsung sekitar 6 jam. Fase aktif terbagi atas :
1. Fase akselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 3 cm sampai 4 cm.
2. Fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam), pembukaan 4 cm sampai 9 cm.
3. Fase deselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 9 cm sampai lengkap (+ 10 cm).

Peristiwa penting pada persalinan kala 1
1. Keluar lendir / darah (bloody show) akibat terlepasnya sumbat mukus (mucous plug) yang selama kehamilan menumpuk di kanalis servikalis, akibat terbukanya vaskular kapiler serviks, dan akibat pergeseran antara selaput ketuban dengan dinding dalam uterus.
2. Ostium uteri internum dan eksternum terbuka
3. Selaput ketuban pecah spontan

Pematangan dan pembukaan serviks (cervical effacement) pada primigravida berbeda dengan pada multipara :
1. Pada primigravida terjadi penipisan/pendatran serviks lebih dahulu sebelum terjadi pembukaan – pada multipara serviks telah lunak akibat persalinan sebelumnya, sehingga langsung terjadi proses penipisan dan pembukaan
2. Pada primigravida, ostium internum membuka lebih dulu daripada ostium eksternum (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti lingkaran kecil di tengah) – pada multipara, ostium internum dan eksternum membuka bersamaan (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti garis lebar)
3. Periode kala 1 pada primigravida lebih lama (+ 20 jam) dibandingkan multipara (+14 jam) karena pematangan dan pelunakan serviks pada fase laten pasien primigravida memerlukan waktu lebih lama.

PERSALINAN KALA II : FASE PENGELUARAN BAYI
DIMULAI pada saat pembukaan serviks telah lengkap. BERAKHIR pada saat bayi telah lahir lengkap. Kala II ditandai dengan His menjadi lebih kuat, lebih sering, lebih lama, sangat kuat. Selaput ketuban mungkin juga baru pecah spontan pada awal kala 2. Lama kala 2 pada primigravida sekitar 2 jam, multipara sekitar 1 jam.

Peristiwa Penting Pada Persalinan Kala 2
1. Bagian terbawah janin (pada persalinan normal : kepala) turun sampai dasar panggul.
2. Ibu timbul perasaan / refleks ingin mengejan yang makin berat.
3. Perineum meregang dan anus membuka (hemoroid fisiologik)
4. Kepala dilahirkan lebih dulu, dengan suboksiput di bawah simfisis (simfisis pubis sebagai sumbu putar/hipomoklion), selanjutnya dilahirkan badan dan anggota badan.

Gerakan utama pengeluaran janin pada persalinan dengan letak belakang kepala : (walaupun gerakan ini diurutkan, tetapi gerakan-gerakan tersbut terjadi secara bersamaan)

1. Engagement : Dikatakan Engagement bila diameter bieparietal kepala sudah melewati pintu atas panggul.
2. Kepala turun ke dalam rongga panggul, akibat : 1) tekanan langsung dari his dari daerah fundus ke arah daerah bokong, 2) tekanan dari cairan amnion, 3) kontraksi otot dinding perut dan diafragma (mengejan), dan 4) badan janin terjadi ekstensi dan menegang.
3. Fleksi : kepala janin fleksi, dagu menempel ke toraks, posisi kepala berubah dari diameter oksipito-frontalis (puncak kepala) menjadi diameter suboksipito-bregmatikus (belakang kepala).
4. Rotasi interna (putaran paksi dalam) : selalu disertai turunnya kepala, putaran ubun-ubun kecil ke arah depan (ke bawah simfisis pubis), membawa kepala melewati distansia interspinarum dengan diameter biparietalis.
5. Ekstensi : setelah kepala mencapai vulva, terjadi ekstensi setelah oksiput melewati bawah simfisis pubis bagian posterior. Lahir berturut-turut : oksiput, bregma, dahi, hidung, mulut, dagu.
6. Rotasi eksterna (putaran paksi luar) : kepala berputar kembali sesuai dengan sumbu rotasi tubuh, bahu masuk pintu atas panggul dengan posisi anteroposterior sampai di bawah simfisis, kemudian dilahirkan bahu depan dan bahu belakang.
7. Ekspulsi : setelah bahu lahir, bagian tubuh lainnya akan dikeluarkan dengan mudah. Selanjutnya lahir badan (toraks,abdomen) dan lengan, pinggul / trokanter depan dan belakang, tungkai dan kaki.

PERSALINAN KALA 3 : FASE PENGELUARAN PLASENTA
DIMULAI pada saat bayi telah lahir lengkap. BERAKHIR dengan lahirnya plasenta.
Kelahiran plasenta adalah lepasnya plasenta dari insersi pada dinding uterus, serta pengeluaran plasenta dari kavum uteri.
Lepasnya plasenta dari implantasinya mungkin dari sentral (Schultze) ditandai dengan perdarahan baru, atau dari tepi/marginal (Matthews-Duncan) jika tidak disertai perdarahan, atau mungkin juga serempak sentral dan marginal.
Plasenta lepas spontan 5-15 menit setelah bayi lahir.

KALA 4 : OBSERVASI PASCAPERSALINAN
Sampai dengan 2 jam postpartum, dilakukan observasi.
Hal yang harus diperhatikan pada kala 4 :
1) Kontraksi uterus harus baik,
2) Perdarahan pervaginam,
3) Plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap,
4) Kandung kencing harus kosong,
5) Luka-luka di perineum harus dirawat dan tidak ada hematoma,
6) Keadaan umum bayi, dan
7) Keadaan umum ibu.

g. Perubahan Fisiologi Pada Ibu Bersalin

Penilaian Perubahan
Cardiac out put
Meningkat 10 % – 15 % (kala I)
Meningkat 30 – 50 % (kala II)

TD
Meningkat saat kontraksi, pada kala I sys 10 mmHG, dan kala II sys 30 mmHg,, dias 25 mmHg
PERNAPASAN

Hyperventilasi karena kebutuhan meningkat dan juga karena tekanan pada diafragma
WBC
Meningkat >= 25.000/mm3
Sistem Urinaria
Susah BAK karena edema, tertekan oleh presentasi
Integumen
Terjadi Distensibilitas intoitus vaginalis (meskipun bervariasi)
Muskoloskeletal

Nyeri punggung karena peregangan sendi
Pencernaan
Bibir dan mulut kering, kemampuan absorpsi usus menurun

Reference:

• ________.2000. Obstetri Fisiologi. Bag OBGYN FK UNPAD : Bandung.
• Prawirohardjo, Sarwono. 2001. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBPSP
• Bobak, et.al. 2005. Keprawatan Maternitas. Jakarta : EGC
• Mukhtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri. Jilid I. Jakarta : EGC
http://www.geocities.com/ (dr. Nugroho Kampono / dr. H. Endy M. Moegni. CAKUL OBGYN – Fisiologi Proses Persalinan Normal)
http://www.geocities.com/ (dr. Siti Dhyanti Wishnuwardhani / dr. H. Muki Reksoprodjo. CAKUL OBGYN – Masa Nifas dan Laktasi
(Periode Pasca Persalinan))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: