Archive for ASUHAN PERSALINAN

INDUKSI PERSALINAN

UNTUK MAHASISWA BIDAN SARI MULIA

Induksi persalinan bukanlah hal yang perlu dilakukan bidan di klinik atau BPSnya, tetapi bukan berarti bidan tidak perlu mengetahui tentang induksi persalinan, karena jika bidan bekerja di rumah sakit dan menjadi tim dalam penanganan pasien maka sangat diperlukan pengetahuan tentang induksi persalinan.
Sebelum membahas lebih lanjut tentang induksi, perlu kita pahami dulu pengertian dari induksi, karena selain istilah induksi juga ada istilah augmentasi atau akselerasi persalinan. Sebagai contoh seorang ibu hamil post term (lebih dari 42 minggu), dengan hasil peeriksaan tidak ada pembukaan dan portio masih di posterior, dokter kemudian memberikan prostaglandin dibawah forniks posterior.
Kasus kedua ada seorang ibu hamil dengan inertia uteri dengan pembukaan 5 cm, his 1 kali dalam 10 menit lama 20 detik, kemudian dokter memberikan oksitoksin drip.
Untuk kedua kasus diatas, tindakan yang dilakukan tidak tergolong sama. Pada kasus I, tindakan yang dilakukan adalah induksi persalinan sedangkan kasus kedua tindakan yang dilakukan adalah akselerasi persalinan atau augmentasi persalinan.
Jadi pengertian dari induksi adalah “stimulating the uterus to begin labour” atau tindakan menstimulasi uterus agar terjadi kontraksi dan persalinan dapat dimulai. Sedangkan Augmentation of labour : “Stimulating the uterus during labour to increase the frequency, duration and strength of contractions” atau tindakan menstimulasi uterus selama persalinan sehingga frekuensi, durasi dan kekuatan his meningkat dan persalinan dapat berjalan lebih cepat.

Induksi persalinan dilakukan pada kondisi :
• Hamil post term
• Kondisi kesehatan ibu yang tidak memadai untuk menunggu proses persalinan alami misalnya ibu dengan PEB atau Eklampsi
• KPD
• Solusio Plasenta dengan janin meninggal

Sedangkan akselerasi persalinan dilakukan pada kondisi kesehatan ibu yang tidak memadai untuk menunggu proses persalinan alami misalnya ibu dengan PEB atau Eklampsi dan pada kasus inertia uteri.

Sebeleum menentukan tindakan induksi persalinan yang paling penting menentukan kondisi serviks, matang atau tidaknya serviks yang dapat dinilai dengan Skor Bishop, karena keberhasilan dari induksi tergantung dari kondisi serviks.

Cara menentukan skor Bishop :
Yang Dinilai Skor 0 Skor 1 Skor 2 Skor 3
Pembukaan Tidak ada 1-2 cm 3 – 4 cm Lebih dari 5
Panjang servik/effacement > 4 cm 3 – 4 cm 1 – 2 cm < 1 cm
Konsistensi Kenyal Rata-rata Lunak -
Posisi Posterior Tengah Anterior -
Penurunan Kepala
(Dari spina ischiadica) -3 -2 -1 +1 +2
Penurunan kepala dengan palpasi (4/5) 3/5 2/5 2/5

Jika skor bishop lebih dari atau sama dengan 6 berarti kondisi serviks matang dan jika kurang dari atau sama dengan 5 berarti seviks belum matang. Tindakan yang dilakukan :

Jika serviks belum matang
• Jika Nilai skor Bishop ≤ 5 lakukan pematangan serviks terlebih dahulu.
• Pematangan serviks dengan prostaglandin dan Katater Foley

Jika serviks sudah matang
• Lakukan Amniotomi
• Jika 1 jam his tidak baik, lakukan pemberian oksitoksi drip.
• Jika ibu mengalami PEB, amniotomi bersamaan dengan oksitoksin drip

Penggunaan Prostaglandin Untuk Pematangan Serviks
• Dosis : prostaglandin (PGE2) bentuk pessarium 3 mg atau gel 2-3 mg ditempatkan pada froniks posterior vagina
• Pemberian diulang setiap 6 jam jika his masih belum baik
• Pemberian dihentikan jika :
▫ Ketuban sudah pecah
▫ Serviks sudah matang
▫ Pemakaian prostaglandin sudah 24 jam

KATETER FOLEY
Kateter foley untuk kateterisasi urine dimasukkan ke dalam canalis servikalis, sampai melewati ostium uteri internum, dan dibuat balon, dengan adanya penekanan pada serviks diharapkan merangsang terjadinya kontraksi. Cara melakukan pemasangan kateter foley :
▫ Pasang spekulum di vagina
▫ Masukkan foley catater ke dalam vagina, masukkan perlahan-lahan ke dalam serviks, sampai melewati ostium uteri internum
▫ Isi balon kateter dengan 10 cc aquadest
▫ Gulung sisa kateter dan letakkan ke dalam vagina
▫ Diamkan sampai timbul kontraksi atau maks 12 jam
▫ Kempiskan balon kateter sebelum mengeluarkan kateter, kemudian lanjutkan dengan infus oksitoksin

Jika tindakan pematangan serviks tidak gagal tindakan selanjutnya adalah terminasi kehamilan dengan cara Sectio Caesaria.
Selain Prostaglandin (PGE2), untuk kondisi tertentu juga dapat diberikan misoprostal yang merupakan jenis PGE1, namun harus diperhatikan Misoprostol ini efeknya lebih kuat sehingga hanya digunakan pada kasus PEB/EKLAMPSI , serviks belum matang, SC tidak bisa dilakukan atau bayi tertalu prematur untuk bisa hidup atau bisa juga diberikan pada kasus IUFD yang lebih dari 4 minggu dan sudah ada tanda gangguan pembekuan darah.

Misoprostol :
• Dosis yang diberikan tablet 25 mcg diletakkan di forniks posterior vagina dan jika tidak ada his dapat diulangi 6 jam kemudian dengan dosis 25 mcg
• Jika setelah 6 jam kemudian tidak ada reaksi naikkan dosis 50 mcg untuk pemberian misoprostol berikutnya
• Jumlah misoprostol yang diberikan jangan lebih dari 200 mcg
• Kemasan Misoprostol biasanya 1 tablet berisi 200 mcg, jadi maksimal penggunaan 1 tablet untuk 1 orang

Yang Perlu Diperhatikan Saat Pemberian Misorostol :

• Oksitoksin tidak diberikan 8 jam setelah pemberian misoprostol
• Pantau kondisi ibu dan janin , terutama his dan DJJ
• Hati-hati terjadi ruptur uteri

Peran bidan dalam tindakan pematangan serviks saat menjadi tim dalam penanganan pasien yang memerlukan induksi, yang terpenting adalah bidan mampu menentukan skor bishop sehingga bisa memberikan masukan pada tim yang lain, selain itu bidan harus mampu menilai kondisi ibu selama penggunaan prostaglandin atau misoprostol karena kemungkinan terjadi hiperstimulasi yang berakibat pada ruptur uteri dan gawat janin.

PEMBERIAN OKSITOKSIN UNTUK INDUKSI/AKSELERASI PERSALINAN
Jika kondisi serviks sudah matang, tindakan yang dilakukan adalah pemberian oksitoksin drip. Saat pemberian oksitoksin perlu diperhatikan yaitu pemantauan dengan menggunakan partograf, memposisikan ibu miring ke kiri dan jangan meninggalkan ibu yang sedang dipasang oksitoksin drip.

Cara dan Dosis Oksitoksin :
• Oksitoksin di drip dalam NaCL atau RL
• Mulai dengan 2,5 UI dalam 500 cc, tetesan mulai dengan 10 tts/m dan naikkan tiap 30 menit sampai kontraksi baik (3 x/ 10 m/ 40 dtk) dan pertahankan sampai terjadi persalinan
• Jika his belum baik sampai tetesan ke 60, tingkatkan pemberian oktitoksi menjadi 5 UI/500 cc
• Mulai dengan tetesan 30 dan tingkatkan 10 tts tiap 30 menit

Perhatikan tabel berikut ini :
Jam Oksitoksin Tetesan/m Perkembangan
01.00 2,5 UI/500 cc Nacl/RL 10 tetes/m
01.30 20
02.00 30
02.30 40
03.00 50
03.30 60 Tidak ada kemajuan
04.00 5 UI/500 cc Nacl/RL 30
04.30 40
05.00 50
05.30 60 Tidak ada kemajuan

• Jika tetap tidak ada kemajuan his sampai dengan tetesan ke-60, maka :
▫ Pada multi dianggap gagal dan lakukan SC
▫ Pada primi dapat dinaikkan :
* Tingkatkan pemberian oktitoksin menjadi 10 UI/500 cc
* Mulai dengan tetesan 30 dan tingkatkan 10 tts tiap 30 menit
* Jika tetap tidak adekuat hisnya setelah tetesan ke-60, lakukan SC

Yang perlu diperhatikan juga dalam pemberian oksitoksin :
• Untuk multigravida harus lebih hati-hati dalam pemberian oksitoksin dan jangan memberikan oksitoksin 10 unit dalam 500 ml
• Jangan memberikan oksitoksin drip pada pasien bekas SC

Dari uraian tentang induksi dan augmentasi persalinan, semuanya ini sangat penting diketahui oleh bidan. Tetapi bukan berarti untuk dilaksanakan secara mandiri, karena induksi persalinan hanya dilakukan pada tempat pelayanan yang lengkap dan memiliki tenaga ahli, mengingat efeknya yaitu hiperstimulasi yang berakibat gawat janin dan ruptur uteri.

SUMBER PUSTAKA :
1. Saifuddin AB, 2003, Buku Panduan Praktik Pelayanan Maternal dan Neonatal, YPBSP : Jakarta
2. http://www.who.int/reproductive-health/impac/Procedures/Induction_P17_P25.html#P22%20table%20P7

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.